Loading...

Teknik Coating, Rahasia Eksportir Pertahankan Kesegaran Buah

15:45 WIB | Monday, 06-August-2018 | Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Dari kiri ke kanan: Deni Handiman, Siti Mariana Widayanti, Penta Oktiman, dan Dondy Setyabudi di ruang coating buah PT. Alamanda (Dok. Muklis)

Bagi ekportir produk pertanian, upaya menjaga kesegaran produk yang akan diekspor adalah harga mati. Kesegaran produk sampai di negara tujuan akan menjaga margin untung, produknya busuk bisnis pun ambruk. Pekan lalu, Tabloid Sinar Tani berkesempatan mengulik rahasia eksportir sayur-sayuran dan buah-buahan di Banjaran, Kabupaten Bandung Selatan yaitu PT Alamanda Sejati Utama.

 

Didampingi Ketua Kelompok Peneliti BB Pasca Panen dan peneliti pascapanen, Tabloid Sinar Tani berkeliling bersama Direktur Operasional dan Manager Pengembangan produk Manager Pengembangan produk PT Alamanda Sejati Utama. Perusahaan ini lahir di tahun 2002 dan menjadi salah satu eksportir utama buah-buahan dari Indonesia bahkan bagian dari NTUC Fair Price, yaitu rantai pasar terbesar di Singapura sehingga harus tetap mempertahankan kesegaran produk.

 

Direktur Operasional PT. Alamanda, Penta Oktiman mengatakan dahulu, mangga yang dijual perusahaannya tidak memiliki waktu simpan yang lama, akibatnya tidak jarang produk yang diekspor tidak diterima di pasar Internasional.

 

"Namun kini, setelah mengenal teknik coating (pelilinan) produk mangga yang diekspor ke Dubai  (24 hari perjalanan laut), mampu bertahan hingga 7 hari setelah tiba," tambah Manager Pengembangan Produk PT. Alamanda, Deni Handiman.

 

Teknologi Pelilinan (Coating) ini terdiri dari empat proses yang bisa menjaga kesegaran produk.  Proses itu dimulai dari sortasi dan grading, kemuadian dilakukan Hot Water Treatment (HWT), lalu dilakukan pelilinan (coating), setelah itu dilakukan packing dan dimasukan di truk.

 

Penta mengakui bahwa teknologi ‘Coating’ ini mereka dapatkan dari Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pasca Panen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (BBPascapanen,Balitbang Pertanian) . Inisiasi penggunaan teknologi ini dimulai pada tahun 2007 dan hingga tahun 2014 proses coating ini telah menjadi Standar Operating Prosedur (SOP) produk ekspor buah-buahan.

 

Dari aspek biaya, Coating yang dikembangkan oleh BB Pasca Panen ini sangat lebih murah jika dibandingkan dengan bahan sintetis yang beredar dipasaran. Dia mencontohkan, penggunaan coating sintetis perlu biaya sekitar Rp. 7 juta per container (15 ton). Sedangkan coating BB Pasca Panen hanya Rp.100 ribu per ton atau sekitar Rp. 1.500.000 per container (15 ton).

 

Mengenai keamanan untuk dikonsumsi, Peneliti BB Pascapanen, Dondy Setiabudi menuturkan teknologi Coating yang digunakannya sangat aman. "Bahan yang digunakan berasal dari sarang lebah, bukan bahan-bahan sintetik yang berbahaya," tuturnya.

 

Ketua Kelompok Peneliti BB Pasca Panen, Siti Mariana Widayanti mengakui proses coating yang beredar di pasaran ada yang menggunakan bahan-bahan sintetis yang berbahaya sehingga wajar saja jika mencul ketakutan masyarakat untuk mengkonsumsi buah-buahan.

 

Tetapi, Siti Mariana sekali lagi meyakinkan kepada Tabloid Sinar Tani jika bahan coating yang digunakan merupakan bahan yang ramah lingkungan dan aman dikonsumsi masyarakat.

 

Nah, sekarang mari gunakan inovasi teknologi Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. PT. Alamanda adalah bukti sukses inovasi itu. (Lis)

 

Editor : Gesha

 

 

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162