Loading...

Tangkis Kampanye Hitam, Perbaiki Tata Kelola Sawit

16:33 WIB | Monday, 25-June-2018 | Kebun | Penulis : Tiara Dianing Tyas

Driektur Jenderal Perkebunan, Bambang

Kampanye hitam atas sawit terus dilakukan oleh kelompok yang melabeli diri sebagai penggiat lingkungan dunia dan negara Uni Eropa. Sebagai salah satu produsen sawit utama, Indonesia ternyata terus berupaya memperbaiki tata kelola sawit dalam negeri untuk menangkal kampanye hitam tersebut.

 

"Saya kira Uni Eropa dan yang lainnya tidak akan pernah berhenti mengahadang kemajuan sawit indonesia, dan kita tidak akan berhenti meyakinkan bahwa sawit itu anugerah untuk dunia, tanaman paling produktif dan efisien untuk pangan dan energi dunia,” pungkas Direktur Jenderal Perkebunan, Bambang ketika ditemui Tabloid Sinar Tani Online.

 

Bersama pelaku usaha sawit, Bambang terus melakukan penyadaran kepada negara-negara tersebut bahwa sawit ini bukan hanya kepentingan Indonesia. Apabila sawit ini diserang kemungkinan kerusakan hutan tropis dunia akan lebih meningkat lagi karena mengalihkan sumber energi dari fosil ke sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan pilihan komoditas yang tidak efektif dan  membutuhkan lahan yang lebih besar dibandingkan sawit.

 

Bambang mengaku pihaknya terus berikan pemahaman, dan Kita perbaiki sawit dalam negeri, termasuk tata kelolanya. “Kita jamin tidak ada yang bersinggungan dengan kawasan, tidak ada yang statusnya tidak jelas, kebun rakyat yang belum bersertifikat Kita berikan, kebun yang bermasalah dengan kawasan Kita minta pelepasan kawasan,” tambahnya.

 

Sedangkan jika memang masuk kawasan Taman Nasional, pemerintah akan kembalikan fungsinya sebagai Taman Nasional kemudian dicarikan lahan pengganti, sehingga semua industri sawit Indonesia clear dan clean

 

Cara perbaikan lain yang tengah dilakukan oleh Indonesia adalah dengan peningkatan produktivitas, bukan perluasan areal baru seperti kampanye hitam yang dilemparkan oleh beberapa pihak. "Katakan saja ditargetkan ada sekitar 20 juta ha yang akan kita tingkatkan produktivitasnya. Tapi sekarang baru ada 14 juta ha, itupun diluar areal milik petani yang terdaftar. Kalaupun ada peningkatan luasan, itu bukanlah luasan baru," tukasnya.

 

Peningkatan produktivitas ini penting sebab hingga kini hanya sekitar 3-3,9 ton/ha setara CPO. "Akan kita tingkatkan lagi sampai 7-10 ton/ha setara CPO dari 20 juta ha. Sehingga tanpa memperluas areal, kita bisa memenuhi kebutuhan minyak dunia," terang Bambang.(tia)

 

 

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162