Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Jaminan Kesehatan Hewan Kurban

05:16 WIB | Thursday, 09-August-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Jaminan Kesehatan  Hewan Kurban

 

Tanggal 22 Agustus mendatang, kaum muslim akan merayakan Lebaran Idul Adha. Saat itulah kaum muslim di Tanah Air akan melakukan penyembelihan hewan kurban. Momen tersebut menjadi berkah tersendiri bagi peternak sapi dan kambing.

 

Sejumlah lapak penjualan hewan kurban jelang Idul Adha tahun ini mulai kebanjiran permintaan dan pesanan. Seperti Lapak Trisakti yang berlokasi di Jl Raya Ciangsana, Kampung Nagrak, Desa Ciangsana, Kabupaten Bogor sampai awal Agustus 2018 sudah meraup keuntungan dari penjualan sapi jenis bali/kupang hingga Rp 5 miliar. 

Pengelola Lapak Trisakti, Ferry Edwar (51) mengatakan, selain sapi bali/kupang, beberapa sapi lainnya seperti jenis limousin sebanyak 20 ekor sudah terjual dengan harga Rp 600 juta. Begitu juga untuk jenis simental sudah laku 20 ekor dengan harga Rp 600 juta (rata-rata Rp 30 juta/ekor). Sedangkan hewan kurban kambing Jawa sudah terjual sebanyak 100 ekor dengan harga Rp 150 juta.

Rata-rata berat sapi yang dijual di lapak Trisakti tersebut beratnya antara 200 kg-1 ton. Sedangkan untuk kambing Jawa antara 20-45 kg. “Pembelinya dari masyarakat biasa untuk persiapan Idul Adha. Tapi, ada juga dari reseller. Mereka umumnya membeli sapi atau kambing dari tempat kami untuk dijual kembali ke masyarakat,” kata Ferry Edwar kepada Sinar Tani.

Ferry menjamin hewan kurban yang dijual di Lapak Trisakti sehat. Sebab, hewan kurban yang dipelihara sejak 3 bulan lalu sudah disuntik obat cacing. “Karena itu, hewan kurban yang kami jual dijamin sehat dari penyakit cacing hati dan usus. Kami juga kerjasama dengan dokter hewan,” ujarnya seraya menambahkan, agar pembeli lebih yakin hewan kurban tersebut dilampiri surat keterangan kesehatan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor.

Sementara itu untuk menjaga animal welfare dan kualitas hewan kurban, Ternaknesia Surabaya, Jawa Timur melakukan kontrol kesehatan hewan kurban. Jika ada tanda-tanda sakit langsung ditangani, termasuk juga antisipasi stres pada hewan yang pindah lokasi kandang.

Menurut Manajer Pemasaran di PT. Ternaknesia Farm Innovation, Habib Achmad, kualitas hewan kurban menjadi hal yang utama. Hewan kurban yang sehat biasanya bisa dilihat dari ciri fisiknya. Syarat hewan yang bisa menjadi kurban adalah berkelamin jantan, cukup umur, tidak cacat, tidak kurus, dan sudah powel/giginya tanggal.

Selain itu, hewan kurban juga harus memiliki mulut mata, hidung, telinga, anus yang bersih dan normal. Mata jernih, cermin hidung tidak basah dan tidak kering. Sedangkan bulunya mengkilat dan kulit baik, serta tidak ada luka atau borok. Hewan juga bergerak aktif, mau makan dan minum dan usahakan sudah diperiksa tim kedokteran hewan.

“Alhamdulillah kami sudah bekerjasama dengan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) dari Universitas Brawijaya. Sebagian tim kami alumni kedokteran hewan dan sebagian tim peternakan dari universitas tersebut,” kata­nya. Karena itu sebagai jaminan kesehatan hewan kurban dan membuat pembeli yakin, Habib menyertakan sertifikat kesehat­annya yang diberikan langsung dari FKH, dan guru besar FKH Universitas Airlangga.

Terkait dengan perawatan, Habib menjelaskan ada beberapa tahapan hewan dan jenis hewan yang harus diperlakukan secara khusus dan berbeda-beda, termasuk juga penyesuaian dan sanitasi kandang baru, pasokan makanan rutin, sortir dan pengelompokan hewan berdasarkan spesifikasi, hingga penambahan biodin dan vitamin lainnya untuk menjaga kondisi dan kebugaran hewan agar tidak stres dan terserang penyakit.

Periksa Sebelum Disembelih

Untuk memastikan hewan kurbang sehat, Balai Besar Pela­tihan Kesehatan Hewan (BBPKH) Cinagara memberikan pelatihan bagi keurmaster. Kepala Seksi Pelatihan Aparatur dari BBPKH Cinagara, Tri Wahyu Agus Riyadi mengatakan, untuk menjamin ke­sehatan dan kelayakan konsumsi, tugas seorang keurmaster sangat penting. 

Mereka kata Tri Wahyu, bertugas mencegah pemotongan hewan yang secara nyata menun­jukkan gejala klinis penyakit hewan menular dan zoonosis atau tanda-tanda yang menyimpang, mencegah kontaminasi dari hewan atau bagian dari hewan yang menderita peyakit kepada petugas, peralatan Rumah Potong Hewan (RPH) dan lingkungan. “Mereka juga bertugas menentukan status hewan dapat dipotong, ditunda atau tidak boleh dipotong,” katanya.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162