Loading...

e-paper Tabloid Sinar Tani - Membangkitkan Kembali Industri Gula

10:36 WIB | Wednesday, 01-August-2018 | Sorotan | Penulis : Pimpinan Redaksi

e-paper Tabloid Sinar Tani - Membangkitkan Kembali Industri Gula

 

Industri gula nasional saat ini sedang kurang bergairah. Banyak pabrik gula yang idle capasity, karena mesin yang sudah berumur dan kekurangan bahan baku tebu. Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka produksi gula dalam negeri bakal terancam.

 

Padahal dalam peta jalan menuju lumbung pangan dunia, pemerintah telah mencanangkan swasembada gula konsumsi pada tahun 2020 dan swasembada gula industri tahun 2025. Diperkirakan kebutuhan gula nasional, baik untuk konsumsi maupun industri mencapai 5,7 juta ton. Dari jumlah itu, kebutuhan konsumsi langsung sekitar 2.429.576 ton. 

Jika menengok perjalanan panjang produksi gula nasional hingga kini produksi gula tertinggi hanya menembus angka 2,7 juta ton yakni tahun 2008. Sejak itu produksinya terjun bebas, pada tahun 2011 hanya 2,23 juta ton. Sempat naik kembali tahun 2012 naik menjadi 2,59 juta ton. 

Pada 2016, produksi gula mentah hanya 2,21 juta ton tu­run dibandingkan tahun sebe­lumnya yang mencapai 2,48 ju­ta ton. Turunnya produksi ini meng­akibatkan meningkatnya ang­­ka impor gula mentah yang mencapai 3,2 juta ton pada tahun 2017. 

Upaya mendongkrak produksi gula ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Masalah klasik yang hingga kini sering dihadapi adalah rendahnya produktivitas tebu dan rendemen gula. Rata-rata produktivitas tebu nasional hanya 72 ton/ha dengan rendemen 7,69%. Produktivitas masih di bawah potensinya 120 ton/ha dan rendemen gula di atas 9%.

Untuk bisa mencapai swasem­bada gula, Menteri Pertanian, Amran Sulaiman mengatakan, pola pengembangannya  bisa men­contoh kesuksesan komoditas jagung yang terintegrasi hingga ke industri pakan. “Jadi peta jalannya sudah jelas. Caranya agar gula ingin swasembada adalah meningkatkan luas lahan, produktivitas, rendemen, kemudian bagaimana pabriknya. Nah ini yang harus diperhatikan,” ujarnya.

Menurut  Amran, pembangun­an pabrik gula baru harus satu paket dengan lahan tebu yang akan memasok bahan baku ke PG. Karena itu, ketersediaan lahan tebu dilakukan bersama Kementerian Pertanian dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). 

“Kita gunakan areal hutan yang tidak produktif untuk bisa ditanami tebu kurang lebih 3 ribu-4 ribu hektar, petani pun akan diajak untuk bisa mencapai 10 ribu ha dengan sistem plasma,” paparnya.

Identifikasi KLHK, lahan yang cocok untuk tebu sudah tersedia sebanyak 541.999 ha, meskipun kebutuhan lahan ideal sekitar 710 ribu ha. Karena sebagian lahan pengembangan kebun tebu berada di Jawa, sehingga akan melibatkan Perum Perhutani sebagai BUMN.

 

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

 

Editor : Pimpinan Redaksi

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162