Loading...

Buka Peluang Pasar, Balitbangtan Latih Petani Demak Olah Sorgum dan Pisang

12:36 WIB | Monday, 30-July-2018 | Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Pelatihan pengolahan sorgum dan pisang, bisa buka peluang pasar bagi masyarakat (dok. Humas BB Pascapanen)

Punya potensi yang melimpah untuk sorgum dan pisang, petani Demak (Jawa Tengah) ternyata masih minim pengetahuan pascapanennya. Karena itu, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian melalui Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen (BB Pascapanen) melatih petani agar bisa terbuka peluang pasar oleh mereka sendiri.

 

Balitbangtan melalui UPT Balai Besar Litbang Pascapanen, Jumat (27/07) lalu, menggelar Bimtek Penanganan Dan Pengolahan Sorgum dan Pisang di Demak, Jateng.  Pelaksanaan bimtek didasarkan atas tingginya potensi pangan lokal di Demak, khususnya Sorgum dan Pisang.

 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kab Demak dalam sambutan tertulis yang dibacakan oleh Kabid Ketahanan Pangan membenarkan hal tersebut. Ditambahkan bahwa pemanfaatan pangan lokal secara masif dapat memberikan konstribusi positif untuk mencapai ketahanan nasional, termasuk ketahanan pangan daerah.

 

Kepala Dinas menilai bimtek ini sangat penting mengingat perlunya peningkatan keterampilan dan pengetahuan kelompok tani atau pelaku pengolah pangan dalam memanfaatkan potensi lokal serta meningkatkan nilai tambah. Masyarakat sebagai pelaku dan konsumen mempunyai peranan yang penting dalam mencapai ketahanan pangan.

 

Peneliti Utama Balitbangtan yang hadir dalam bimtek, Joni Munarso menuturkan bimtek ini sebagai bentuk diseminasi yaitu mendekatkan teknologi hasil litbang kepada masyarakat pengguna. Lebih lanjut, Joni menyebutkan pentingnya kegiatan diseminasi ini bagi masyarakat setempat. "Teknologi ini diharapkan dapat diaplikasikan dan dimanfaatkan masyarakat dalam rangka penganekaragaman olahan pangan berbasis sumber pangan lokal" tuturnya,

 

Berbagai teknologi terkait sorgum dan pisang dipaparkan dalam bimtek ini. mulai dari penanganan pascapanen (teknologi penyimpanan biji dan berasan sorgum) dan teknologi pengolahannya (teknologi berasan, aneka kue, dan crispy atau gendar sorgum, serta teknologi produksi sereal instan, snack bar, saos dan selai dari pisang kepok).

 

Tutor Bimtek yang sekaligus peneliti penanganan pascapanen sorgum, Kun Tanti Dewandari menuturkan pentingnya penyimpanan pascapanen untuk menjadi bahan baku pengolahan selanjutnya. "Biji sorgum menghadapi masalah cepat rusak dan menjadi bubuk ketika disimpan", jelasnya.

 

Tutor bimtek lainnya dalam teknologi pengolahan, Ira Mulyawanti menuturkan peluang olahan sorgum dan pisang semakin beragam. Karenanya, pengolahannya pun harus dilakukan secara kreatif. "Kami membawa teknologi dengan muatan kekinian yang agak kental. Soalnya pisang kepok lokal di sini kayaknya hanya diolah secara konvensional.. dan kurang menarik anak muda jaman now," tambahnya.

 

Bimtek yang diikuti oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) terpilih di Kab Demak, kelompok tani, penyuluh, PKK, dan aparat desa ini berlangsung penuh antusias. Kepada pendamping teknologi, peserta menyampaikan bahwa teknologi dan produk yang dikenalkan dapat menjadi alternatif usaha pengembangan pangan berbasis sorgum dan pisang.

 

Inisiator usaha bersama salah satu KWT yang menjadi peserta bimtek, Istianah bahkan mengutarakan niatnya untuk mengembangkan usaha oleh-oleh khas Demak dimana salah satu produknya adalah cryspi sorgum (gendar sorgum) dan brownies sorgum.  Beberapa KWT lainnya juga tertarik untuk mengembangkan bisnis tersebut, termasuk kesiapan KWT Berkah Tani dari desa Raji yang siap memasok berasan dan tepung sorgum baik untuk diversifikasi pangan maupun untuk mendukung usaha pengolahan. (S Joni Muniarso/Ira Mulyawati/gsh)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162