Loading...

Berhasil !, Nanas Bisa Ditanam Legowo 3 :1 di Lahan Gambut

21:27 WIB | Saturday, 28-July-2018 | Inovasi Teknologi | Penulis : Kontributor

Hamparan kebun nanas dengan metode legowo 3 :1 (dok.BPTP Jambi)

Perbaikan teknik budidaya dan pemasaran yang tepat akan meningkatkan kualitas dan nilai jual. Salah satunya diujicoba dengan sistem legowo 3 : 1 pada lahan gambut di Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi. Hasilnya pun memuaskan sehingga bisa ditingkatkan menjadi kawasan potensi.

 

Nanas dari desa Tangkit, Jambi memang terkenal istimewa karena manis dan adaptasinya yang baik di lahan gambut. Namun sayangnya, masyarakat masih menggunakan metode pertanaman tradisional sehingga hasilnya belum memuaskan. Perlu adanya perbaikan teknik budidaya dan pemasaran yang tepat akan meningkatkan kualitas dan nilai jual.

 

Salah satu perbaikan teknologi budidaya yang diterapkan oleh peneliti dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jambi  adalah pengaturan jarak tanam untuk meningkatkan produktivitas, yaitu ‘Legowo 3:1’. Metode pertanaman ini menggunakan jarak antar baris 80 cm dan terdapat 3 tanaman pada masing-masing baris. Mirip dengan jajar legowo pada pertanaman padi.

 

Metode ini diujicobakan melalui kegiatan Bioindustri Nanas-Sapi sejak tahun 2015 di sentra nanas Provinsi Jambi, yaitu Desa Tangkit Baru, Kecamatan Sungai Gelam, Kabupaten Muaro Jambi yang merupakan lahan gambut.

 

Beberapa teknologi budidaya yang diterapkan melalui demplot seluas 0.25 Ha ini adalah pengaturan jarak tanam legowo 3:1, pemupukan dan pemangkasan tunas samping. Adopsi teknologi budidaya oleh petani cukup baik, terlihat dari penanaman nanas di lahan baru telah mengikuti jarak tanam yang dianjurkan tersebut.

 

Scaling up atau pengembangan lahan penanaman oleh petani telah tercapai seluas 0.25 ha, 5 ha dan 2 ha dari 3 petani yang telah mengadopsi teknologi tersebut.

 

Kaitannya dengan bioindustri nanas-sapi adalah melalui pengolahan limbah berupa kulit nanas sebagai pakan sapi dan mengolah limbah sapi menjadi kompos dan bio urine sebagai pupuk untuk tanaman nanas. Secara umum konsep bioindustri tersebut dapat diterima oleh masyarakat, namun pendampingan secara intensif masih diperlukan sehingga pelaksanaannya lebih optimal.

 

Perbaikan jejaring pemasaran produk olahan nanas mutlak diperlukan agar rantai bioindustri dapat terus berjalan. Pemasaran produk olahan nanas yang baik meningkatkan motivasi petani untuk terus menjalankan rantai Bioindustri Nanas-Sapi.

(Suci Primilestari, S.P., M.Si)

 

 

 

Editor : Gesha

 

Konsultasi Hotline
Hubungi Kami
(021) 7812162